Tugas Bahasa Indonesia 5

Artikel Jurnal :

Linux-Based Access Point Dalam Wireless LAN

Pembuat :

Timotius Witono

Program Studi Teknologi Informasi Fakultas Teknologi Informasi, Universitas Kristen Maranatha

Jl. Prof. Drg. Suria Sumantri No.65 Bandung 40164

Email : timotius.witono@eng.maranatha.edu

 

Pengkomentar  :

Dimas Agung Riansa (5235127220)

Pendidikan Teknik Informatika dan Komputer, Universitas Negeri Jakarta

 

 

 

 

 

 

 

Abstract

Technology 802.11 which more known as WiFi, have started to become the cablereplacement Technology especially in local network so-called Wireless LAN. Mostly  Wireless LAN use the  nfrastructure topology, which require uses of one or more Access Points as the communication center of Mobile Stations. Existence of a high quality Access Point is an important factor to  determine the Quality of Wireless LAN performance. Besides  using Access Point that made in factory, Access Point can be custom-built by using  PC  provided with Linux OS, Wireless Adapter and certain System Configuration. This type of Access Point named Linux-Based Access Point. Making of Linux-Based Access Point requires the basic knowledges of wireless and computer network. Standard feature which can be given in aLinux-Based Access Point is Gateway Router and DHCP Server.

The base concept in the making of Linux-Based Access Point is the utilization of wireless adapter As Access Point Master, and also involves some command of Linux Wireless  Extention utilities for detail wireless adapter configuration. While for the standard feature, required  network configuraton, DHCP Server installation and NAT command using iptables.

Keywords:  Linux-Based Access Point, Wireless LAN, WiFi, DHCP Server, 802.11, Cable replacement technology

 

Pendahuluan

Perkembangan dunia teknologi informasi terus mengarah kepada penggunaan teknologi tanpa kabel (wireless). Penggunaan teknologi wireless sudah menjadi standar dalam dunia teknologi informasi. Berbagai peralatan genggam sudah dilengkapi InfraRed, Bluetooth ataupun WiFi untuk dapat bertukar informasi secara wireless. Penggunaan peripheral komputer secara wireless juga sudah menjadi teknologi umum, seperti keyboard dan mouse wireless dengan menggunakan Infrared, Bluetooth atau RF (Radio Frequency). Dalam dunia komputer sendiri, teknologi wireless juga sudah menjadi standar. Penggunaan teknologi wireless dalam jaringan komputer sering disebut dengan Wireless LAN. Wireless LAN yang umum digunakan sekarang berteknologi 802.11b dan 802.11g pada frekuensi 2.4 GHz. Hanya sebagian kecil yang menggunakan teknologi 802.11a, 93  Jurnal Informatika, Vol. 2, No.2, Desember 2006:93 – 107  karena faktor pengaturan spektrum wireless yang belum membebaskan penggunaan frekuensi 5 GHz.

Teknologi 802.11 yang lebih dikenal dengan sebutan Wi-Fi, sudah mulai menjadi teknologi cable-replacement terutama dalam jaringan lokal. Wireless LAN juga didukung oleh banyak vendor perangkat komputer, salah satunya oleh Intel dengan merilis teknologi Intel Centrino yang mengadopsi standar teknologi wireless. Dengan demikian setiap notebook dengan prosesor Intel Centrino, pasti mendukung sambungan Wireless LAN. Banyaknya notebook keluaran baru yang mendukung sambungan Wireless LAN, menyebabkan banyaknya sambungan LAN yang berpindah dari kabel ke wireless, serta meningkatnya akses internet public secara nirkabel yang sering disebut dengan istilah Hotspot. Dalam sebuah Wireless LAN dibutuhkan Access Point yang akan bekerja sebagai pusat pengendali komunikasi dari setiap komponen jaringan wireless yang tersambung.

 

1. Wireless LAN

Wireless LAN menggunakan teknologi Wi-Fi. Wi-Fi (Wireless Fidelity) merupakan standar yang dibuat oleh konsorsium perusahaan produsen peranti

Wireless LAN (Wi-Fi Alliance) untuk mempromosikan kompatibilitas perangkat

Wireless LAN. Wi-Fi menggunakan standar teknologi radio 802.11. Teknologi 802.11 yang dikeluarkan oleh IEEE mengatur standar pada dua buah lapisan terbawah dari jaringan komputer, yaitu :

  • Physical Layer

Lapisan PHY (physic), berfungsi menangani pengiriman data antar titik

  • Data Link Layer

Lapisan Medium Access Controller (MAC) bekerja pada lapisan data-link dan berfungsi menjaga validitas lalu-lintas data

 

 

 

 

 

Berikut adalah perbandingan standar teknologi 802.11b, 802.11g dan 802.11a :

Lapisan fisik (PHY) teknologi 802.11 menggunakan tiga teknik spectrum gelombang radio berikut :

 Frequency Hopping Spread Spectrum (FHSS)

Sistem FHSS merupakan teknologi paling awal. FHSS menggunakan teknik pengiriman dengan jalur frekuensi sempit. Pada sistem FHSS, data akan dikirimkan dalam potongan-potongan kecil. Jalur pembawa data akan meloncat dari satu jalur frekuensi ke jalur frekuensi lain dalam pola acak.

 Direct Sequence Spread Spectrum (DSSS)

Sistem DSSS merupakan teknik yang lebih baik dari FHSS. Sistem DSSS menggunakan teknik pengiriman dengan jalur frekuensi lebar. Dengan menggunakan jalur lebar, sinyal yang tersebar luas pada jalur lebar akan membuat sinyal radio lebih kuat, sedangkan noise berkurang.

 Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM)

Sistem OFDM merupakan teknik yang paling maju di antara ketiganya. Sistem OFDM menggunakan jalur frekuensi lebar. Pada sistem OFDM, jalur frekuensi lebar akan dibagi menjadi beberapa jalur frekuensi sempit. Kemudian data akan dikirimkan secara paralel melalui beberapa jalur frekuensi sempit sekaligus, sehingga kecepatan pengiriman data meningkat. [Gas05]

Berdasarkan model jaringan yang terbentuk, Wireless LAN memiliki dua buah topologi yaitu :

 

 

1. Ad-Hoc

Dua/lebih Mobile Station (MS) berkomunikasi dan membentuk jaringan secara bebas.    Tidak ada struktur tertentu dalam jaringan tersebut tidak ada titik yang tetap, dan biasanya setiap MS dapat berkomunikasi langsung dengan setiap MS yang lain   Salah satu menjadi master

2. Infrastruktur

Menggunakan Access Point (AP) tetap sebagai pusat komunikasi bagi MSs  AP biasanya terhubung dengan jaringan kabel untuk menjembatani  jaringan nirkabel dengan jaringan kabel  Struktur kerjanya sama dengan Base Station pada jaringan selular

 

2. Linux-Based Access Point

kebanyakan Wireless LAN menggunakan topologi infrastruktur, dikarenakan proses komunikasi dapat berjalan lebih baik dan teratur, serta dapat mengakomodasi lebih banyak klien dibanding AdHoc. Pada Wireless LAN dengan topologi infrastruktur, dibutuhkan Access Point tetap sebagai pusat komunikasi bagi klien (Mobile Station). Selain menggunakan Access Point buatan pabrik yang sudah tersedia di pasaran, Wireless LAN juga dapat menggunakan PC-Based Access Point sebagai pusat komunikasi.

PC-Based Access Point pada umumnya menggunakan Linux dan FreeBSD sebagai sistem operasi. Bukan berarti PC-Based Access Point tidak dapat dibuat dengan sistem operasi yang lain, masih dimungkinkan jika kita ingin menggunakan OpenBSD, Windows, Macintosh, Solaris atau sistem operasi yang lain. Akan tetapi yang selama ini banyak digunakan adalah Linux dan FreeBSD, dikarenakan selain sistem operasi tersebut bersifat open-source, untuk kedua sistem operasi tersebut banyak pengembang software atau driver untuk memfasilitasi pengembangan PCBased Access Point. Dalam tulisan ini PC-Based Access Point yang akan dibahas menggunakan system operasi Linux, dan biasa dinamakan Linux-Based Access Point.

Linux-Based Access Points dapat diartikan menjadi dua definisi berikut :

  1. Linux-Based Access Point dengan cara Firmware-Upgrade

Definisi : Access Point buatan pabrik yang diganti dengan firmware berbasis Linux.

Jika menggunakan cara ini, pertama-tama dibutuhkan sebuah Access Point yang firmware-nya dapat diganti (upgradeable) dengan firmware berbasis Linux. Salah satu AP yang dapat diganti dengan firmware berbasis Linux adalah WRT54GL dari  Linksys. Sedangkan salah satu firmware berbasis Linux yang dapat digunakan pada WRT54GL adalah DD-WRT (http://www.dd-wrt.com/).

Cara pertama dengan menggunakan Access Point dan Linux Firmware dapat  diperoleh dari http://www.dd-wrt.com/  atau site Linux Firmware yang lain, dan tidak akan dibahas lebih jauh pada tulisan ini

  1. Linux-Based Access Point dengan cara Custom-Built

Definisi : PC biasa yang menggunakan OS Linux, dilengkapi wireless adapter, dan memiliki software yang dapat menjadikan PC menjadi Access Point.

Cara kedua tersebut di atas yang akan dijelaskan pada tulisan ini. Untuk selanjutnya istilah Linux-Based Access Point akan mengacu pada Linux-Based Access Point dengan cara Custom-Built ini, dan disingkat menjadi LBAP. LBAP

membutuhkan :

  • PC

PC yang dipakai memiliki sebuah interface LAN Card biasa (berbasis kabel).

  • Wireless Adapter

Wireless adapter yang digunakan adalah D-Link AirPlusG, wireless PCI card yang mendukung teknologi 802.11b/g dengan wireless-chipset Atheros.

  • Linux OS

OS yang digunakan adalah Ubuntu 6.06 Dapper Drake (dengan madwifi driver)

 

 

  • Software

Software tidak menggunakan software yang sudah jadi, tetapi dikonfigurasi satu persatu sehingga LBAP dapat berjalan sebagai Wireless Router (Wireless Access Point sekaligus Router dalam satu mesin).

LBAP yang dilengkapi dengan perangkat seperti di atas, akan menjalankan fitur-fitur sebagai

Berikut :

1.Access Point

Wireless Adapter pada LBAP akan dikonfigurasi menjadi Access Point dengan parameter-parameter yang dikehendaki.

2. Router

LBAP menjadi Gateway bagi klien wireless, dengan menjalankan proses NAT agar klien dapat mengakses internet.

3. DHCP Server

LBAP memberikan IP Address kepada klien wireless, sehingga klien tidak perlu repot untuk mengkonfigurasi IP Address secara manual.

 

3. Langkah pembuatan Linux-Based Access Point

3.1 Konfigurasi Wireless

Tujuan konfigurasi wireless ini adalah mengubah Wireless Adapter yang semula merupakan Access Point Client (klien dari AP) menjadi Access Point Master (AP yang melayani klien). Konfigurasi akan dilakukan menggunakan command-line pada Linux OS. Penggunaan command-line akan lebih kompleks dari penggunaan GUI, akan tetapi ada keuntungan signifikan yang akan diperoleh. Penguasaan command-line memberikan kemampuan membuat shell script, yang dapat menghemat banyak waktu, memudahkan operasionalitas, serta mengurangi pengurangan daya (sangat menguntungkan jika menggunakan notebook bertenaga baterai).

Perintah command-line yang digunakan merupakan bagian dari Linux Wireless Extension (LWE) yang dikembangkan oleh Jean Tourrilhes. LWE mendukung wireless-chipset Hermes (wireless adapter akan dikenali sebagai eth0), Prism (dengan wlan-ng driver, wireless adapter akan dikenali sebagai wlan0), Atheros (dengan madwifi driver, wireless adapter akan dikenali sebagai ath0) dan Cisco Aironet (wireless adapter akan dikenali sebagai wifi0). Utilitas LWE yang

digunakan adalah :

  • iwconfig

iwconfig adalah utilitas milik LWE yang paling penting. Seluruh parameter  untuk konfigurasi Wireless LAN secara umum bisa dilakukan dengan perintah ini.

 

  • Iwpriv

iwpriv merupakan utilitas penting yang mendampingi iwconfig. Jika iwconfig digunakan untuk konfigurasi parameter umum (standard-defined parameter) yang umumnya sama untuk setiap wireless adapter, iwpriv digunakan untuk melakukan konfigurasi parameter yang bersifat private (driver-spesific parameter) sehingga berbeda untuk wireless-chipset spesifik milik setiap wireless adapter.

Berikut langkah-langkah command-line menggunakan utilitas LWE :

 

1. Membuat wireless adapter memilih mode yang paling cocok

root@ubuntu:/# iwpriv ath0 mode 0

Keterangan : wireless adapter akan menentukan dirinya akan berjalan di  teknologi 802.11b, 802.11g atau 802.11a sesuai standar tertinggi yang dimilikinya secara default.

2. Melihat kondisi wireless adapter

root@ubuntu:/# iwconfig ath0

Keterangan : Status awal wireless adapter akan terlihat.

3. Melakukan penamaan SSID Access Point

root@ubuntu:/# iwconfig ath0 essid AKSESpoin

Keterangan : SSID Access Point yang akan dikenali oleh klien adalah AKSESpoin.

4. Membuat wireless adapter menjadi Access Point

root@ubuntu:/# iwconfig ath0 mode master

Keterangan : Wireless adapter akan berubah fungsi dari AP Client menjadi AP Master.

5. Melakukan konfigurasi lain-lain pada wireless adapter

root@ubuntu:/# iwconfig ath0 rate 11M auto

root@ubuntu:/# iwconfig ath0 enc off

root@ubuntu:/# iwconfig ath0 key off

root@ubuntu:/# iwconfig ath0 txpower auto

root@ubuntu:/# iwconfig ath0 channel 7

root@ubuntu:/# iwconfig ath0

Keterangan : Beberapa konfigurasi penting lain yang harus dilakukan

 

6. Mengaktifkan wireless adapter

root@ubuntu:/# ifconfig ath0 up

Keterangan : wireless adapter diaktifkan. Sampai langkah ini, Access Point sudah bisa dikenali oleh klien

 

 

3.2 Konfigurasi Jaringan

Jaringan harus dikonfigurasi untuk dua buah interface, yaitu interface wireless dan interface kabel. Interface kabel memakai IP Address yang merupakan bagian dari jaringan kabel yang terhubung ke internet. Sedangkan interface wireless menggunakan IP Address tersendiri yang digunakan untuk terhubung ke klien wireless. Berikut adalah konfigurasi jaringan untuk kedua interface tersebut :

  • Interface Kabel

Interface kabel menggunakan jaringan 10.20.160.0/24

  • Interface Wireless

Interface wireless menggunakan jaringan 192.168.192.0/24

 

 

 

 

 

 

 

Berikut langkah-langkah detail konfigurasi jaringan :

1. Isikan pada /etc/network/interfaces

root@ubuntu:/# vi /etc/network/interfaces

auto lo

iface lo inet loopback

 

auto eth0

iface eth0 inet static

address 10.20.160.217

netmask 255.255.255.0

network 10.20.160.0

broadcast 10.20.160.255

gateway 10.20.160.35

 

auto ath0

iface ath0 inet static

address 192.168.192.1

netmask 255.255.255.0

network 192.168.192.0

broadcast 192.168.192.255

Keterangan : Pada Ubuntu, file yang mengatur IP Address adalah file interfaces (dengan path lengkap /etc/network/interfaces). IP Address dilengkapi dengan keterangan subnetmask dan gateway, disesuaikan dengan kondisi jaringan kabel yang ada dan jaringan wireless yang akan dibentuk.

 

 

 

2. Isikan pada /etc/network/options

root@ubuntu:/# vi /etc/network/options

ip_forward=yes

spoofprotect=yes

syncookies=no

Keterangan : Pada Ubuntu, file yang mengatur opsi jaringan adalah file options (dengan path lengkap /etc/network/options). Yang paling penting di sini adalah mengaktifkan fitur ip_forward dengan memberikan parameter”yes”, digunakan agar LBAP dapat bekerja sebagai Router dengan meneruskan (forward) IP.

3. Restart servis jaringan dengan

root@ubuntu:/# /etc/init.d/networking restart

* Reconfiguring network interfacesc [ok]

Keterangan :  Pada Ubuntu, perubahan konfigurasi jaringan baru dapat berjalan jika servis jaringan di restart.

3.3 Konfigurasi DHCP Server

LBAP juga dilengkapi dengan DHCP Server (Dynamic Host Configuration Protocol). Berikut langkah detail instalasi dan konfigurasi DHCP Server :

1. Instalasi DHCP Server

root@ubuntu:/# dpkg -i dhcp_2.0pl5-19.1_i386.deb

Keterangan : Pada Ubuntu, instalasi DHCP Server dapat menggunakan paket bertipe .deb . Setelah mendapatkan paket dhcp_2.0pl5-19.1_i386.deb dari server mirror ubuntu terdekat, DHCP Server dapat diinstal dengan utilitas dpkg.

 

 

2. Konfigurasi DHCP Server

root@ubuntu:/# vi /etc/dhcpd.conf

subnet 192.168.192.0 netmask 255.255.255.0 {

range 192.168.192.101 192.168.192.200;

option routers 192.168.192.1;

option broadcast-address 192.168.192.255;

option domain-name-servers 10.20.160.51;

option domain-name “aksespoin.com”;

default-lease-time 600;

max-lease-time 7200;

}

Keterangan : Pada Ubuntu, konfigurasi opsi dari DHCP Server dapat dilakukan dengan melakukan penulisan opsi pada file dhcpd.conf (dengan path lengkap /etc/dhcpd.conf).

3. Konfigurasi interface DHCP Server

root@ubuntu:/# vi /etc/default/dhcp

INTERFACES=”ath0″

Keterangan : Pada Ubuntu, untuk menentukan interface yang digunakan untuk melayani klien DHCP Server ditentukan pada file dhcp (dengan path lengkap /etc/default/dhcp). Interface yang digunakan adalah interface wireless, dimana interface tersebut dikenali dengan nama ath0.

4. Konfigurasi DHCP Server

root@ubuntu:/# /etc/init.d/dhcp restart

Stopping DHCP server: dhcp.

Starting DHCP server: dhcpd.

Keterangan : Pada Ubuntu, untuk mengaktifkan perubahan konfigurasi DHCP diperlukan proses restart servis DHCP Server yang sedang berjalan.

3.4 Konfigurasi NAT

LBAP juga menjadi gateway router bagi klien untuk mengakses jaringan internet, karena itu dibutuhkan proses penterjemahan IP Address pada LBAP. Proses penterjemahan ini dapat dilakukan dengan cara NAT (Network Address  Translation) menggunakan utilitas iptables.

berikut langkah detail melakukan konfigurasi NAT :

1. Konfigurasi iptables untuk NAT

root@ubuntu:/# iptables -t nat -A POSTROUTING -s \

>  192.168.192.0/24 -o eth0 -j SNAT –to 10.20.160.217

Keterangan : Pada Ubuntu, proses NAT dengan iptables dapat dilakukan dengan menambahkan aturan POSTROUTING pada tabel nat.

 

 

2. Memeriksa tabel NAT

root@ubuntu:/# iptables -nvL -t nat

4. Implementasi Linux-Based Access Point

Setelah konfigurasi LBAP selesai, klien dapat melakukan sambungan wireless ke SSID AKSESpoin, mendapatkan IP Address dan akhirnya melakukan sambungan ke internet. Klien tidak akan merasakan perbedaan antara Access Point buatan pabrik dengan Linux-Based Access Point.

 

 

 

 

Implementasi LBAP dapat maksimal jika memperhitungkan faktor evaluasi sbb :

1. LBAP vs AP buatan pabrik

Faktor ini merupakan pertimbangan utama implementasi LBAP. Jika dibandingkan dengan AP buatan pabrik yang dapat dibeli dan dapat dikonfigurasi secara web based atau telnet, LBAP memiliki kerugian dan keuntungan sbb :

2. Site-survey

Teknologi 802.11 sendiri memiliki sifat Line-of-Sight (LoS). LoS mensyaratkan agar dua buah titik yang sedang berkomunikasi secara wireless, harus memiliki garis pandang yang tidak berpenghalang. Jika ada penghalang antar keduanya, akan memberikan hambatan bagi proses komunikasi. Berikut besarnya hambatan yang akan diberikan oleh jenis bahan penghalang :

Karena itu dibutuhkan upaya survei lokasi (site-survey) untuk menentukan lokasi LBAP yang tepat, agar transmisi radio dari LBAP ke klien sebisa mungkin hanya sedikit mengalami hambatan sehingga komunikasi dapat berjalan maksimal. Juga dimungkinkan pemakaian lebih dari satu buah LBAP dalam satu lokasi, jika hasil dari site-survey menyatakan lokasi tersebut tidak mampu untuk dilayani oleh satu LBAP saja. Beberapa software yang dapat digunakan untuk site-survey adalah NetStumbler, AirMagnet dan Kismet.

3. Kabel (cable) vs Nirkabel (wireless)

Penggunaan Wireless LAN dapat ditinjau dari segi keuntungan maupun kerugian yang akan diperoleh sbb :

Kesimpulan

Linux-Based Access Point merupakan cara alternatif dalam memenuhi kebutuhan AP, selain menggunakan AP keluaran pabrik. Untuk membuat Linux-Based Access Point diperlukan PC, Wireless Adapter, Linux OS dan konfigurasi sistem, sehingga menjadikan PC dapat berfungsi sebagai Access Point. Pembuatan Linux-Based Access Point memberikan keuntungan signifikan dalam pengetahuan teknologi  wireless dan jaringan secara mendalam, karena dengan utilitas yang disediakan  oleh Linux OS, wireless adapter dan jaringan dapat dikonfigurasi secara menyeluruh dan mendetail. Adapun fitur yang diinginkan dalam sebuah Linux Based Access Point dapat disesuaikan secara fleksibel, sesuai dengan kebutuhan pengguna. Perencanaan implementasi Linux-Based Access Point dalam sebuah Wireless LAN harus diperhitungkan dari keuntungan dan kerugian yang diberikan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

[And03] Anderson, S. (2003). A Linux Wireless Access Point HOWTO. Retrieved January, 2007, from http://oob.freeshell.org/nzwireless/ LWAP-HOWTO.html

[Gas05] Gast, M.S. (2005). 802.11 Wireless Networks 2nd Edition. US : OfReilly

[Gum06] Gumph.org. (2006). Linux Based AccessPoints. Retrieved January, 2007 from http://wireless.gumph.org/content/4/7/071-linux-Based-ap.html

[Jho05] Jhonsen, Edison, J. (2005). Membangun Wireless LAN. Jakarta : Elex Media  Komputindo.

[Lin05] Linux Consulting. (2005). Madwifi HOWTO – FAQ – WIKI. Retrieved June,  2006, from http://www.madwifi.net/

[Mad05] Madwifi.org. (2005). MadWifi User Documentation. Retrieved June, 2006, from  http://madwifi.org/wiki/UserDocs

[Tou05] Tourrilhes, J. (2005). Wireless LAN resources for Linux. Retrieved June, 2006,  from http://www.hpl.hp.com/personal/Jean_Tourrilhes/Linux/

[Vla04] Vladimirov, A.A., Gavrilenko, K.V, Mikhailovsky, A.A (2004). Wi-Foo, The  Secrets of Wireless Hacking. US : Addison  Wesley.

 

 

 

 

Komentar Saya

 

Saya suka sekali dengan cara penulis menjelaskan langkah langkah membuat wireless LAN dengan akses point berbasis linux untuk menggantikan LAN kabel yang banyak dipakai. Pengunaan wireless LAN ini dapat sangat mempermudah kita dalam tukar menukar data dalam satu ruangan tanpa perlu repot-repot menggunakan kabel.

 

Setelah membaca artikel ini mensetting wireless LAN berbasis linuxpun menjadi seperti sangat mudah kita tidak perlu lagi repot  mencari buku referensi atau panduan cara mensetting wireless lan tersebut hal ini tentu mempermudah kita

 

Artikel ini juga menjelaskan segala hal yang perlu diperhatikan dalam mensetting wireless LAN berbasis linux seperti missal tabel hambatan yang terdapat pada bagian akhir menjelaskan mengapa transfer data bisa menjadi sulit  apabila computer kita dengan computer lainnya terpisah oleh salah satu material yang terdapat pada bagan tersebut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s